Gorengan: Nikmat di Mulut, Drama di Dalam Tubuh!

A

Agnes Irina

Penulis

calendar_today14 Jan 2026
schedule3 min read

Gorengan sudah seperti sahabat setia dalam keseharian banyak orang. Dari sarapan sederhana, teman minum teh sore, hingga camilan saat lapar di malam hari, gorengan selalu berhasil menggoda. Tempe goreng yang renyah, bakwan hangat, tahu isi yang gurih, atau pisang goreng manis sering kali terasa sulit ditolak. Harganya terjangkau, mudah ditemukan, dan rasanya sudah akrab di lidah. Namun di balik kenikmatan itu, ada proses yang terjadi di dalam tubuh yang sering kali luput dari perhatian.

Masalah utama gorengan bukan sekadar pada jenis makanannya, melainkan pada cara pengolahan dan frekuensi konsumsinya. Proses penggorengan membuat makanan menyerap minyak dalam jumlah besar. Jika dikonsumsi terlalu sering, tubuh akan menerima asupan lemak dan kalori yang berlebih tanpa disadari. Inilah awal dari berbagai “drama” yang perlahan muncul di dalam tubuh.

  • 1. Asupan kalori bertambah tanpa terasa

Gorengan cenderung tinggi kalori karena minyak yang terserap selama proses penggorengan. Satu atau dua potong mungkin terasa sepele, tetapi jika dikonsumsi hampir setiap hari, jumlah kalorinya bisa menumpuk dengan cepat. Sayangnya, gorengan jarang memberikan rasa kenyang yang tahan lama. Akibatnya, tubuh tetap merasa ingin makan lagi meski asupan kalorinya sudah cukup tinggi.

  • 2. Sistem pencernaan bekerja lebih berat

Makanan berminyak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Setelah mengonsumsi gorengan, perut bisa terasa penuh, kembung, atau tidak nyaman. Bagi sebagian orang, gorengan juga dapat memicu naiknya asam lambung dan rasa begah yang mengganggu aktivitas. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, sistem pencernaan akan bekerja ekstra hampir setiap hari tanpa jeda.

  • 3. Kadar kolesterol perlahan meningkat

Minyak yang digunakan berulang kali saat menggoreng berpotensi menghasilkan lemak trans dan lemak jenuh. Kedua jenis lemak ini dapat memengaruhi keseimbangan kolesterol dalam darah. Dampaknya memang tidak langsung terasa, tetapi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah.

  • 4. Energi cepat naik dan cepat turun

Gorengan sering memberi sensasi kenyang dan puas sesaat, tetapi tidak memberikan energi yang stabil. Kandungan lemak tinggi tanpa keseimbangan nutrisi seperti serat dan protein membuat tubuh tidak mendapatkan bahan bakar yang optimal. Akibatnya, setelah makan gorengan, rasa lelah, ngantuk, atau lesu justru lebih mudah muncul.

  • 5. Kualitas pola makan jadi kurang seimbang

Jika gorengan terlalu sering dijadikan camilan utama atau bahkan pengganti makanan, asupan makanan bergizi lain bisa terabaikan. Konsumsi sayur, buah, dan protein berkualitas menjadi berkurang tanpa disadari. Dalam jangka panjang, pola makan yang tidak seimbang ini dapat memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan dan menurunkan kualitas kesehatan.

Meski memiliki berbagai dampak, bukan berarti gorengan harus dihilangkan sepenuhnya dari kehidupan sehari hari. Gorengan masih bisa dinikmati sesekali selama porsinya terkontrol dan tidak menjadi kebiasaan harian. Cara pengolahan juga berperan penting, mulai dari penggunaan minyak yang bersih, tidak dipakai berulang kali, hingga meniriskan gorengan dengan baik sebelum dikonsumsi agar kandungan minyak berlebih bisa berkurang.

Menjaga keseimbangan menjadi kunci agar tubuh tetap sehat tanpa harus kehilangan kenikmatan kecil yang sudah akrab di keseharian. Mengimbangi konsumsi gorengan dengan makanan bernutrisi seperti sayur, buah, dan protein membantu tubuh mendapatkan asupan yang dibutuhkan. Dengan lebih sadar terhadap porsi dan frekuensi, gorengan tetap bisa dinikmati tanpa membuat tubuh terus menerus menghadapi dampak negatif di balik rasanya yang menggoda.


Keywords: Gorengan, Dampak gorengan, Gorengan dan kesehatan, Bahaya gorengan, Efek gorengan bagi tubuh, Makanan digoreng, Kebiasaan makan gorengan, Dampak gorengan bagi kesehatan tubuh, Bahaya konsumsi gorengan berlebihan, Gorengan dan risiko kesehatan.

Tags:

Tetap update dengan Health Tech

Bergabung dengan 15,000+ profesional kesehatan yang mendapat insight mingguan dari periksa.id.

Kami menjaga privasi data Anda sesuai kebijakan privasi kami.